SELARAS.CO.ID — Sennheiser Spectera resmi masuk pasar Indonesia sebagai sistem audio wireless bidirectional wideband pertama di dunia, memungkinkan satu bodypack menangani sinyal mikrofon dan in-ear monitor sekaligus. Sistem berbasis WMAS ini mampu mengelola hingga 64 link audio dari satu base station, dengan latensi serendah 0,7 milidetik. Kehadirannya menyasar kebutuhan produksi panggung dan broadcast profesional yang selama ini bergantung pada dua link wireless terpisah.
Spectera pertama kali diperkenalkan di IBC 2024, pameran teknologi broadcast terbesar di Eropa. Perangkat ini dirancang untuk menjawab kebutuhan produksi audio profesional yang semakin kompleks.
Beda Spectera dari Sistem Wireless Konvensional
Pada sistem konvensional, musisi di atas panggung memakai mikrofon untuk mengirim suara ke sistem audio, sekaligus memakai IEM atau in-ear monitor untuk mendengar suara yang dikirim balik. Kedua kebutuhan itu biasanya berjalan di link wireless yang berbeda.
Spectera mengubah pendekatan itu. Satu bodypack kini bisa menangani sinyal mikrofon dan IEM sekaligus, dalam dua arah komunikasi secara bersamaan.
WMAS Jadi Kunci Utama
Fitur unggulan Spectera adalah WMAS atau Wireless Multichannel Audio System. Teknologi ini memungkinkan satu carrier RF yang lebar menampung banyak channel audio sekaligus.
Alih-alih tiap mikrofon butuh frekuensi sendiri seperti pada sistem narrowband konvensional, WMAS memampatkan banyak channel ke dalam satu carrier RF selebar 6-8 MHz.
Pendekatan itu membuat Spectera jauh lebih resisten terhadap RF fading, yakni gangguan sinyal radio akibat pantulan di lingkungan sekitar. Sinyal audio disebar ke seluruh lebar carrier, bukan hanya di satu titik frekuensi sempit.
Artinya, meski sebagian lebar frekuensi terkena fading, bagian lain dari carrier tetap bisa membawa data dengan baik.
Lebih Hemat Spektrum
WMAS juga menawarkan efisiensi spektrum yang lebih tinggi. Satu carrier sudah cukup untuk banyak channel, sehingga kebutuhan spektrum total jauh lebih sedikit dibanding mengalokasikan frekuensi terpisah untuk tiap channel.
Dari sisi kapasitas, Spectera dapat menampung hingga 64 channel yang terdiri dari 32 input dan 32 output hanya dari satu base station.
Latensi Nyaris Tanpa Delay
Latensi Spectera tercatat sangat rendah, hingga 0,7 milidetik. Bagi musisi di atas panggung, angka itu berarti delay yang bisa merusak timing tidak akan terasa.
Pengurangan kompleksitas rak alat menjadi nilai tambah lain. Dengan menggabungkan mic dan IEM dalam satu sistem bidirectional, produksi panggung tidak lagi perlu menata dua set perangkat wireless terpisah.
Dampak ke Industri Audio Profesional
Kehadiran Spectera menandai lompatan di industri audio wireless profesional. Sistem ini diharapkan menjadi solusi lebih praktis untuk mengelola wireless audio, terutama pada produksi berskala besar seperti konser, teater, dan siaran langsung.
Bagi pelaku industri audio di Indonesia, masuknya Spectera membuka opsi perangkat dengan manajemen spektrum lebih efisien. Regulasi frekuensi yang semakin ketat di banyak negara membuat teknologi hemat spektrum seperti WMAS jadi relevan.
Belum ada informasi resmi soal harga Spectera untuk pasar Indonesia. Sennheiser juga belum merinci jadwal ketersediaan perangkat ini di channel distribusi lokal.