SELARAS.CO.ID — Pupuk Indonesia mengawali langkah besar untuk memperluas bisnisnya ke luar negeri. Perusahaan pelat merah itu menandatangani perjanjian studi bersama atau joint study dengan sebuah kelompok usaha terbesar di Rusia untuk menilai potensi investasi pembangunan pabrik urea di Vladivostok.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan penjajakan ini lahir dari pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela Eastern Economic Forum 2026.
"Pada intinya, kami bersama-sama dengan Dirut Pupuk Indonesia baru saja menandatangani joint study untuk melihat potensi dari Pupuk Indonesia berinvestasi di Vladivostok ini untuk pupuk urea," kata Rosan dalam keterangan resminya, Jumat (4/9/2026).
Posisi Strategis Vladivostok dan Pasar Ekspor Pupuk
Bukan tanpa alasan Rusia Timur Jauh dipilih sebagai lokasi ekspansi. Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengungkapkan bahwa Vladivostok memiliki posisi geografis yang menguntungkan karena menghadap langsung ke kawasan Pasifik.
Kawasan ini selama ini menjadi salah satu pasar utama ekspor Pupuk Indonesia. Dengan memiliki pabrik di Vladivostok, distribusi produk bisa lebih dekat ke pelanggan di kawasan tersebut sekaligus memperkuat posisi perusahaan di pasar internasional.
"Ini menjadi menarik karena Vladivostok adalah menghadap ke Pasifik, pasar yang selama ini memang menjadi pasar utama Pupuk Indonesia," ujar Rahmad.
Kinerja BUMN Kian Efisien dan Peran Danantara
Keputusan untuk berekspansi ke Rusia disebut tidak terlepas dari perbaikan kinerja keuangan Pupuk Indonesia beberapa tahun terakhir. Rosan menilai perusahaan yang berada di bawah naungan Danantara ini menunjukkan tren peningkatan performa dan efisiensi operasional.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi Pupuk Indonesia untuk tidak hanya fokus di dalam negeri, tetapi juga memperluas investasi di luar negeri. Kerja sama dengan mitra Rusia diharapkan dapat memperkuat ketahanan industri pupuk nasional sekaligus memastikan pasokan bahan baku bagi kebutuhan domestik.
"Kalau kita lihat dari Pupuk Indonesia ini performance-nya makin lama makin bagus, makin efisien, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok ini dan dengan pihak Rusia," jelasnya.
Kesempatan ini pun direspons cepat oleh manajemen Pupuk Indonesia. Penandatanganan nota kesepahaman tersebut disebut sejalan dengan arahan Danantara agar BUMN di bawah pengawasannya lebih agresif dalam ekspansi global, tanpa mengesampingkan peran dalam ketahanan nasional.
Prabowo Pamerkan Kerja Sama di Forum Internasional
Momen penjajakan kerja sama ini sempat dipamerkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto saat berdialog di panggung Eastern Economic Forum 2026 di Vladivostok. Di hadapan para pemimpin bisnis dan negara peserta, Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia dan Rusia telah menandatangani nota kesepahaman untuk proyek pupuk berbahan baku gas di wilayah Timur Jauh.
"Hari ini, sebuah nota kesepahaman (MoU) juga telah ditandatangani antara perusahaan pupuk kami dan salah satu kelompok usaha terbesar di Rusia untuk investasi bersama dalam proyek produksi pupuk berbahan baku gas di wilayah Timur Jauh Rusia ini," kata Prabowo.
Meski demikian, Prabowo belum merinci lebih jauh mengenai nilai investasi maupun nama kelompok usaha Rusia yang menjadi mitra Pupuk Indonesia. Yang jelas, proyek ini menandai babak baru bagi BUMN Indonesia yang mulai berani mengambil peran di peta industri pupuk global, khususnya di kawasan yang selama ini menjadi ladang ekspor utama.
Dengan rencana pembangunan pabrik ini, ketahanan pasokan pupuk Indonesia di pasar Asia-Pasifik disebut akan semakin solid, sekaligus membuka peluang baru bagi perusahaan untuk menembus pasar yang lebih luas.