SELARAS.CO.ID — Usulan itu disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (1/9). Ia menyebut surat permohonan sudah dikirim ke Menteri Keuangan sejak 18 Agustus 2026.
"Dalam rangka menjamin kepastian pasokan bahan baku industri pengolahan, peningkatan penyerapan tenaga kerja, meningkatkan pendapatan petani, serta memperkuat substitusi impor dan daya saing ekspor nasional," kata Amran.
Masuk ke Kantong Komoditas Apa Saja?
Tambahan dana ini menyasar tujuh komoditas perkebunan strategis: kelapa, lada, pala, tebu, kopi, kakao, dan jambu mete. Sebagian anggaran juga bakal dipakai untuk pengadaan 1.250 unit traktor khusus komoditas tebu.
Amran menjelaskan, prioritas kementerian adalah meningkatkan produktivitas sekaligus memastikan petani dapat penghasilan lebih baik. Ia menyebut program ini sejalan dengan arahan presiden soal akselerasi pertumbuhan berkualitas.
Target Produksi yang Dikejar
Dengan suntikan dana segar itu, Kementan memasang target produksi beras 34,83 juta ton pada 2027. Jagung diharapkan tembus 18,23 juta ton, kedelai 392 ribu ton, dan ubi kayu 17,79 juta ton.
Untuk komoditas perkebunan, kelapa sawit dipatok di angka 245,4 juta ton, kelapa 2,9 juta ton, kakao 633 ribu ton, pala 41 ribu ton, dan lada 64 ribu ton. Kopi ditargetkan 791 ribu ton.
Sementara sektor peternakan menargetkan susu 922 ribu ton, telur 8,08 juta ton, dan daging 5,28 juta ton. Untuk pangan, bawang merah ditargetkan 2,14 juta ton, bawang putih 40,63 ribu ton, dan cabai 3,13 juta ton.
DAK dan Program Prioritas
Selain tambahan anggaran, Kementan mengalokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik 2027 sebesar Rp 5 triliun untuk seluruh bidang. Dari jumlah itu, subbidang pertanian memperoleh pagu Rp 111 miliar, dengan prioritas 20 kabupaten di 10 provinsi.
Alokasi DAK non-fisik 2027 masih menunggu keputusan Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Keuangan.
Sejumlah program prioritas yang disiapkan mencakup infrastruktur lahan dan air, penyediaan benih dan bibit berkualitas, sarana produksi, hilirisasi, modernisasi pertanian, hingga regenerasi petani melalui penyuluhan.
Bila usulan ini cair, petani kelapa dan kakao di daerah bisa bernapas sedikit lega. Pasalnya, kepastian anggaran berarti ada harapan peremajaan tanaman dan perbaikan kualitas bibit yang selama ini kerap jadi keluhan utama.