Pakar Bongkar Penyebab KM Virgo Tenggelam di Masalembo, Bukan Mistis

Rabu, 16 September 2026 | 16:48:00 WIB

SELARAS.CO.ID — Kecelakaan KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, dinilai murni akibat interaksi faktor cuaca dan oseanografi, bukan fenomena mistis. Kawasan yang dijuluki "Segitiga Bermuda Indonesia" itu memiliki arus laut kompleks serta gelombang silang yang berbahaya bagi kapal.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr Daryono, menegaskan bahwa tingginya risiko pelayaran di perairan Masalembo dapat dijelaskan secara logis melalui kondisi laut dan atmosfer yang sangat dinamis. Penegasan ini merespons kecelakaan kapal motor (KM) Virgo Transport 8 di kawasan tersebut.

Menurut Daryono, Masalembo bukan wilayah makhluk halus atau kawasan misterius yang secara otomatis "menarik" kapal hingga tenggelam.

"Kompleksitas tersebut tidak berarti Masalembo memiliki fenomena laut yang misterius atau unik yang secara otomatis menyebabkan kapal tenggelam. Risiko pelayaran di kawasan ini lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi berbagai faktor, antara lain angin, gelombang, arus, pasang surut, kondisi atmosfer, batimetri, karakteristik kapal, muatan, serta keputusan dan prosedur navigasi," ujar Daryono dalam keterangan tertulis yang diterima detikJatim, Rabu (16/9/2026).

Persimpangan Tiga Perairan Besar

Masalembo berada di posisi strategis karena diapit Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Selat Makassar merupakan jalur "tol air" utama yang mengalirkan massa air berarus deras dari Samudra Pasifik menuju perairan Indonesia bagian selatan.

Daryono menganalogikan kawasan ini seperti persimpangan jalan raya yang sangat padat. Perbedaan suhu, kadar garam (salinitas), hingga kedalaman air laut di sana menciptakan pergerakan arus yang sangat kompleks.

"Pada kondisi tertentu, perbedaan densitas antarlapisan bisa menghasilkan stratifikasi laut dan shear arus, yaitu perbedaan kecepatan atau arah arus antara satu lapisan dengan lapisan lainnya. Proses tersebut dapat berhubungan dengan turbulensi, pencampuran massa air, maupun fenomena gelombang internal. Namun fenomena ini tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab kapal kehilangan daya apung atau kendali," jelas Daryono.

Gelombang Silang dan Badai Mendadak

Faktor cuaca di Masalembo turut memengaruhi keselamatan pelayaran. Pergerakan angin monsun Asia-Australia membuat arah dan kecepatan angin di kawasan itu berubah-ubah.

Kondisi tersebut kerap memicu cross-sea atau gelombang silang, yakni situasi ketika dua atau lebih sistem gelombang dari arah berbeda bertemu dan saling bertabrakan di satu titik. Bagi kapal, hantaman gelombang dari berbagai arah ini bagaikan dikocok dari samping kiri-kanan (rolling) sekaligus depan-belakang (pitching).

"Cross-sea dapat meningkatkan gerakan kapal, terutama rolling (miring ke kiri dan kanan) dan pitching (mengangguk ke depan dan belakang), serta menambah beban dinamis pada struktur kapal," katanya.

Awan Kumulonimbus Perparah Kondisi Laut

Laut Masalembo yang hangat sangat disukai pembentukan awan badai raksasa (kumulonimbus). Awan ini bisa menyemburkan angin kencang secara mendadak (gust front) dan mengacaukan kondisi laut dalam waktu singkat.

"Ketika awan kumulonimbus berkembang kuat, dapat terjadi hujan lebat, petir, downdraft, dan gust front. Embusan angin yang berubah cepat bisa menyebabkan kondisi laut berubah dalam waktu relatif singkat. Bagi kapal, perubahan mendadak pada angin dan gelombang dapat meningkatkan beban dan gerakan kapal," kata Daryono.

Daryono menekankan bahwa risiko pelayaran di Masalembo tidak bisa disederhanakan menjadi narasi mistis. Pemahaman terhadap karakteristik oseanografi dan meteorologi kawasan itu menjadi kunci untuk meningkatkan keselamatan pelayaran, terutama bagi kapal yang melintasi jalur padat Selat Makassar.

Terkini