SELARAS.CO.ID — Kapal induk Giuseppe Garibaldi resmi bersandar di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9), menjadi kapal induk pertama yang dimiliki Indonesia. Kapal hibah dari Italia ini berlayar sejak Senin (24/8) dan sempat singgah di Sri Lanka sebelum masuk perairan Indonesia melalui ALKI I. Kehadirannya menandai lompatan kemampuan proyeksi laut TNI AL di kawasan Asia Tenggara.
Kedatangan Giuseppe Garibaldi disambut tabuh gendang dan tim marching band TNI yang membawakan lagu khas Betawi, "Si Jali Jali". Sejumlah pejabat tinggi militer hadir langsung di dermaga, termasuk Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, KSAL Laksamana Muhammad Ali, dan KSAU Marsekal Mohamad Tonny Harjono.
Kapal induk ini berangkat dari Italia sejak Senin (24/8) dengan pengawalan kapal perang Angkatan Laut Italia. Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul menyebut selama perjalanan kapal sempat singgah di beberapa negara, salah satunya Sri Lanka.
Setelah dari Sri Lanka, Garibaldi masuk ke perairan Indonesia melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I atau perairan Bangka, Bangka Belitung. Dua kapal perang TNI AL, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, langsung mengawal kedatangannya.
Spesifikasi Teknis Giuseppe Garibaldi
Nama kapal yang pertama kali diluncurkan pada 1983 ini diambil dari patriot Italia abad ke-19, Giuseppe Maria Garibaldi. Kapal ini menjadi dek penerbangan pertama yang pernah dibangun untuk Angkatan Laut Italia dan sempat menjalani upgrade besar di Taranto, Italia, sebelum diserahkan ke Indonesia.
Garibaldi dirancang dengan kemampuan lepas landas jarak pendek dan pendaratan vertikal (STOVL). Konfigurasi ini membatasi jenis pesawat yang bisa dioperasikan, tetapi kapal tetap mampu mengangkut berbagai helikopter untuk misi serbu.
Dimensinya mencapai panjang 180,2 meter dengan bobot sekitar 13,8 ribu ton. Sistem penggerak COGAG (Combined Gas Turbine and Gas Turbine) memungkinkan kapal melaju hingga 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam.
Kapal ini mampu menampung sekitar 600 kru inti, 230 personel grup udara, dan sekitar 100 personel komando. Dalam kondisi tertentu, Garibaldi dapat mengangkut hingga 600 pasukan komando tambahan.
Sistem Penggerak dan Kelistrikan
Konfigurasi COGAG dibagi dalam dua ruang mesin terpisah demi faktor keselamatan. Mesin utamanya terdiri dari 4 turbin gas General Electric/Avio LM2500 yang menghasilkan daya total hingga 82.000 shp untuk memutar dua poros baling-baling.
Dengan konfigurasi tersebut, kapal mampu menempuh jangkauan operasional sekitar 7.000 mil laut pada kecepatan ekonomis 20 knot. Kebutuhan listrik cadangan dipasok 6 generator mesin diesel Grand Motori Trieste B230/12 melalui konsol terintegrasi SEPA 7614.
Persenjataan dan Sensor
Garibaldi mewarisi karakteristik kapal penjelajah dengan sistem pertahanan mandiri yang lebih kuat dibanding kapal induk standar Angkatan Laut AS yang bergantung pada kapal pengawal. Untuk pertahanan udara, kapal dilengkapi 2 peluncur rudal delapan sel Selenia "Albatros" yang menampung total 48 rudal Aspide.
Sistem pertahanan titik (CIWS) mengandalkan 3 meriam ganda Breda 40mm/70 yang terintegrasi dengan sistem Dardo. Meriam ini mampu merontokkan rudal yang lolos dari pertahanan utama dengan jangkauan tembak hingga 4 km terhadap sasaran udara.
Untuk ancaman bawah air, dipasang 2 tabung peluncur torpedo tiga laras jenis ILAS-3 kaliber 324mm yang menggunakan torpedo ringan Mk 46 atau A-244. Sebelumnya, kapal juga dipasangi 8 peluncur rudal anti-kapal OTOMAT MK-2 di bagian buritan, namun dilepas pada 2003 untuk memperluas geladak penerbangan.
Posisi Indonesia di Kawasan
Kedatangan kapal induk pertama ini menempatkan Indonesia dalam kelompok terbatas negara Asia Tenggara yang mengoperasikan kapal induk. Proses alih status, pelatihan kru, dan integrasi ke doktrin TNI AL menjadi tahap berikutnya yang menentukan seberapa cepat Garibaldi bisa beroperasi penuh.